Senin, 06 Februari 2017

Musibah Dalam Agama

 Musibah dalam agama dianggap biasa

Nabi shallallahu'alaihi wasallam berdoa kepada Allah agar Allah tidak menimpakan musibah atau ujian kepada beliau dalam urusan agama, yaitu doa beliau berikut ini :

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan (harta dan kemewahan) dunia sebagai cita-cita kami yg paling besar, dan tujuan utama dari ilmu yg kamimiliki.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi V/528 no.3502, An-Nasa’I dalam As-Sunan Al-Kubro VI/106, Al-Hakim I/528, dan Ibnu As-Sunny dalam Amalul Yaum wa Al-Lailah no.445).
Derajat hadist tersebut adalah hasan, sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani didalam Shohih Sunan At-Tirmidzi III/168 no.2783, dan Shohih Al-Jami’ I/400.

Musibah pada agama adalah semua perkara yang mengurangi agama kita, seperti malas beribadah, malas pengajian, malas sholat malam, malas bersedekah, dll.

Seringkali kita benar- benar merasa terkena musibah jika musibah tersebut berkaitan dengan dunia kita , seperti berkurangnya harta, jiwa, atau ditimpa penyakit.

Akan tetapi tatkala kita menjadi malas dalam beribadah kita anggap itu adalah hal yang biasa. Padahal itu adalah musibah, bahkan musibah agama lebih parah daripada musibah dunia

2 komentar:

  1. Bahasan yang sungguh menarik..karena memang benar terkadang kita lebih mengutamakan musibah dunia daripada musibah dalam agama, padahal hal2 yang kita anggap sepele sebenarnya lebih penting daripada musibah dunia.

    BalasHapus
  2. Bahasannya cukup menarik,disarankan agar menambah bahasan yg lain supaya lebih menarik,terima kasih

    BalasHapus